Efektivitas Vaksin Covid-19
Pandemi
Covid-19 telah berlangsung selama 2 tahun. Berbagai macam upaya telah dilakukan
oleh pemerintah, para tenaga medis, dan ilmuwan untuk memutus rantai penyebaran Virus Covid–19. Sebagai langkah lanjutan pemerintah terhadap penanganan Covid-19,
kini dibentuklah Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19. Tim ini
terdiri dari beberapa menteri, lembaga riset, Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) dan perguruan tinggi. Pemberian vaksin merupakan solusi yang
dianggap paling tepat untuk mengurangi dan memutus rantai penularan Virus Covid-19. Vaksinasi bertujuan
untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap suatu penyakit tertentu sehingga
jika suatu saat terpapar penyakit tersebut maka hanya akan mengalami gejala
yang ringan.
Seperti
yang kita ketahui, proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung
selama lebih dari sepekan. Di tengah pelaksanaannya, ada sejumlah orang yang
diumumkan positif corona setelah menerima vaksin corona dengan
jenis sinovac. Sebut saja, misalnya, Bupati Sleman Sri Purnomo yang positif corona
namun tanpa gejala.
Dokter
spesialis paru RSUP Persahabatan, Dr Erlina Burhan, mengungkapkan seseorang
yang telah disuntikkan vaksin corona memang masih memungkinkan bahwa mereka dapat positif
Covid-19.
"Risiko
terjangkit Covid-19 ini akan tetap ada setelah diberikan vaksin, namun
risikonya akan jauh lebih rendah. Dan kalau pun terjangkit, gejala klinisnya
akan ringan," jelas Erlina dalam diskusi virtual yang diselenggarakan
Kemenkes, Sabtu (23/1).
Erlina
mengambil contoh proses pembentukan antibodi dari seseorang yang disuntikkan
vaksin corona, seperti sinovac hingga pfizer. Ia menjelaskan, seseorang
yang menerima vaksin corona dosis pertama baru akan mulai terbentuk
imunitasnya pada hari ke-12. Kemudian, orang tersebut akan menerima vaksin
dosis keduanya 3 pekan setelah suntikan pertama.
"Hari
ke-21, terima dosis vaksin kedua lalu dicek ulang antibodinya maka akan
dikatakan tercapai antibodi dengan imunitas yang penuh, yakni pada hari
ke-28," tutur Erlina.
Berdasarkan proses pembentukan antibodi tersebut, Erlina menilai seseorang masih bisa terpapar Covid-19 bahkan setelah divaksin. Kemungkinan itu bisa terjadi jika saat hari penyuntikan, orang tersebut sedang dalam masa inkubasi.
"Bisa
saja terdapat seseorang yang saat dilakukan vaksinasi sudah
terinfeksi sebelum disuntik atau terpapar dalam masa inkubasi, tapi tidak kita
ketahui, maka kemudian divaksin setelah beberapa hari akan muncul gejala
sehingga saat diperiksa positif," ucap Erlina.
"Tetapi,
sebetulnya ini bukan karena vaksin. Tetapi karena memang sudah terpapar
sebelumnya atau masa inkubasi pada saat vaksinasi," lanjut dia.
Ia
pun memastikan jika positif corona setelah disuntikkan vaksin, maka
tidak akan mengalami sakit yang parah. Erlina juga mengingatkan bahwa vaksinasi
tidak akan menjamin 100 persen kebal dari paparan virus corona.
"Kalaupun sudah divaksin, masih ada kemungkinan terjangkit juga maka protokol kesehatan jangan dilupakan," tutup Erlina. Selain itu, berdasarkan https://covid19.go.id/tanya-jawab?page=3 juga dijelaskan bahwa vaksin tidak 100% membuat kita kebal terhadap Covid-19. Namun, akan mengurangi dampak yang ditimbulkan jika kita tertular Covid-19. Sehingga dari itu, bukankah kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan 5M dan tidak boleh lengah sedikitpun?
Oleh sebab itu, walau sudah divaksin kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang dimana merupakan salah satu aspek atau upaya yang paling tepat dalam kondisi pandemi ini yang dapat kita terapkan untuk memutus rantai penyebaran Virus Covid-19.
wah teks editorialnya sangat informatif dan rapih. Dilengkapi juga dengan gambar yang mendukung. Semangat terus ya!
BalasHapusidihhh, themenya pas banget, warnanya juga ga terlalu terang atau gelep. isinya juga ga kalah bagus ini mah
BalasHapusTeksnya sangat informatif dan ada faktanya juga, struktur teks juga sangat rapih! Semangat!
BalasHapuskeren, rapih banget, saran untuk tiap paragraf minimal 2-3 kalimat ya sesuai tahap pembuatan teks editorial, semangat!
BalasHapusteksnya sangat rapi. sedikit masukkan dari saya, untuk bisa menambahkan beberapa opini atau pendapat redaksi untuk memenuhi struktur argumentasi diikuti dengan fakta agar dapat membedakan dengan teks berita dan menambahkan beberap kalimat untuk menyesuaikan kaidah kebahasaan seperti kalimat retoris. selebihnya, sudah oke dan mantap sekali apalagi disertai dengan gambar.
BalasHapusStruktur teksnya rapi dan sangat informatif serta dilengkapi dengan gambar.
BalasHapuswahh teks editorial nya disusun dengan sangat rapi dan juga informatif sekalii.. tetap semangat yaa!
BalasHapuskerenn banget! struktur dan bahasanya sudah tersusun dengan rapi
BalasHapusSangat bermanfaat teks editorial nya, penulisan nya juga rapi dan struktur nya sudah sesuai
BalasHapusWahh teks editorialnya sudah sesuai struktur dan rapih ya,, topik yang di bahas juga sangat bermanfaat. Semangat terus author!
BalasHapusteksnya sangat rapih dan informatif, ada gambarnya juga. keren!
BalasHapusteksnya sangat terstruktur dan rapih, ada gambar juga. keren!
BalasHapuskerenn banget teksnya informatif dan rapi
BalasHapusrapih sekali teksnya dan bermanfaat!
BalasHapusTeks informatif dan terstruktur rapi
BalasHapuswahhhh, teks editorialnya sudah terstruktur dengan rapi, topik yang dibawa juga cukup menarik
BalasHapusWahh teksnya sangat terstruktur dan rapih
BalasHapusTeksnya sangat informatif dan memberikan saya wawasan baru
BalasHapusWah, teksnya sangat bagus dan informatif. Strukturnya sudah sesuai dan paragrafnya juga sudah rapi
BalasHapuskeren! Teksnya sangat informatif , bagus dan strukturnya sesuai juga sangat menarik
BalasHapuswahh, teksnya sangat bagus dan rapih, teksnya sudah terstruktur dan rapih serta topik yang dibawakan juga sangat menarik dan informatif.
BalasHapus