Setiap dua tahun sekali, terdapat fenomena unik dimana matahari tepat berada di atas kepala sehingga Tugu Khatulistiwa dan benda disekelilingnya tak memiliki bayangan, fenomena ini terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Selain Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak juga dilalui aliran sungai terpanjang di Indonesia yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Dahulu, pada tahun 1963
Kota Pontianak menggunakan zona waktu WITA, namun pada tahun 1988 bersama
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat berdasarkan keputusan presiden, dua
wilayah ini menggunkan zona waktu WIB. Sehingga pada tahun 1988 Kota Pontianak
merayakan dua kali tahun baru yakni pukul 00:00 WITA (23:00 WIB) dan 00:00 WIB.
Kota Pontianak didirikan
oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771. Berawal dari perjalanan
Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka lahan hutan di persimpangan Sungai Landak,
Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas Besar untuk dijadikan tempat kekuasaan
Beliau. Berdirinya Masjid Jami’ (kini Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan
Istana Kadariah yang berada di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur
mengukuhkan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai Sultan Pontianak pada tahun
1778.
Menurut sejarahwan Belanda
V.J Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit
berbeda dengan cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Ditulis dalam
bukunya, Belanda memasuki Kota Pontianak tahun 1773 dari Batavia. Disebutkan
bahwa Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan anak dari Al Habib Husin yang
meninggalkan Kerajaan Mempawah untuk merantau. Dalam perjalanannya, Syarif
Abdurrahman Alkadrie menetap di Banjarmasin dan menikah dengan adik Sultan
Banjar Sunan Nata Alam dan berhasil dilantik menjadi seorang pangeran.
Menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Syarif Abdurrahman berhasil dalam
perniagaan dan mengumpulkan cukup uang untuk modal mempersenjatai kapal
miliknya yang digunakan untuk melawan penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan
Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda, juga kapal Inggris dan Prancis.
Dari hasil pembajakan kapal para penjajah inilah Syarif Abdurrahman berhasil
mengumpulkan uang dalam jumlah banyak yang akan digunakan Beliau untuk
membangun pemukiman di percabangan Sungai Kapuas. Yang kini daerah ini dinamakan
Pontianak.
Pada tahun 1778, Belanda
dari Batavia memasuki Pontianak yang dipimpin oleh Willem Ardinpola. Di
Pontianak, Belanda disambut baik bahkan bertempat tinggal di seberang
kesultanan (kini disebut Tanah Seribu atau Verkendepaal). Kemudian pada tanggal
5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan yang berisi bahwa Belanda
menginginkan daerah Tanah Seribu sebagai pusat kegiatan bangsa Belanda. Dimana
di daerah ini Belanda membuat sistem pemerintahan (daerah kekuasaan yang
dipimpin semacam bupati) yang memiliki badan pemerintahan untuk mengelola
kekayaan pemerintah dan mengurus pajak.
Pada tahun 1946 Pontianak
ditetapkan sebagai Stadsgemeente yang dipimpin oleh R.Soepadan dan berakhir di
tahun 1948. pembentukkan stadsgemeente hanya bersifat sementara. Kemudian di
tahun 1949 Kerajaan Pontianak membentuk pemerintahan kota dan walikota pertama
ialah Rohanan Muthalib yang merupakan perempuan pertama yang menjadi walikota
Pontianak.
Keindahan Kota Pontianak, perjuangan Sultan Syarif Abdurrahman haruslah kita hargai, rawat, dan juga implementasikan dalam kehidupan sehari - hari. Sehingga dari itu, saya merasa bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa, warga negara Indonesia, harus mencintai tanah air kita yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita, yang dapat diimplementasikan dengan cara mengharumkan nama bangsa dan negara, belajar dengan giat, pantang menyerah dan terus berusaha, mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, tidak melupakan jasa para pahlawan, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan hal positif lainnya yang dapat memajukkan dan mengharumkan nama bangsa kita yaitu bangsa Indonesia.


