Senin, 27 September 2021

TEKS SEJARAH KOTA PONTIANAK

      

Tugu Khatulistiwa

    Kota Pontianak adalah ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kota Pontianak juga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Disebut Kota Khatulistiwa sebab bagian utara Kota Pontianak atau lebih tepatnya daerah Siantan dilalui garis lintang khatulistiwa. Bahkan di daerah Siantan terdapat Tugu Khatulistiwa sebagai tonggak garis ekuator yang dibangun pada tahun 1928 oleh ahli geografi Belanda. Kota Pontianak memiliki beberapa julukan, seperti Kota Khatulistiwa, Kota Seribu Parit dan Pontianak Kota Bersinar.

    Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu yang dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.

   Setiap dua tahun sekali, terdapat fenomena unik dimana matahari tepat berada di atas kepala sehingga Tugu Khatulistiwa dan benda disekelilingnya tak memiliki bayangan, fenomena ini terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Selain Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak juga dilalui aliran sungai terpanjang di Indonesia yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak.  

Taman Alun - alun Kapuas

    Dahulu, pada tahun 1963 Kota Pontianak menggunakan zona waktu WITA, namun pada tahun 1988 bersama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat berdasarkan keputusan presiden, dua wilayah ini menggunkan zona waktu WIB. Sehingga pada tahun 1988 Kota Pontianak merayakan dua kali tahun baru yakni pukul 00:00 WITA (23:00 WIB) dan 00:00 WIB.

    Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771. Berawal dari perjalanan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka lahan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas Besar untuk dijadikan tempat kekuasaan Beliau. Berdirinya Masjid Jami’ (kini Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang berada di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur mengukuhkan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai Sultan Pontianak pada tahun 1778.

    Menurut sejarahwan Belanda V.J Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dengan cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Ditulis dalam bukunya, Belanda memasuki Kota Pontianak tahun 1773 dari Batavia. Disebutkan bahwa Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan anak dari Al Habib Husin yang meninggalkan Kerajaan Mempawah untuk merantau. Dalam perjalanannya, Syarif Abdurrahman Alkadrie menetap di Banjarmasin dan menikah dengan adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan berhasil dilantik menjadi seorang pangeran. Menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Syarif Abdurrahman berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup uang untuk modal mempersenjatai kapal miliknya yang digunakan untuk melawan penjajahan Belanda.

   Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda, juga kapal Inggris dan Prancis. Dari hasil pembajakan kapal para penjajah inilah Syarif Abdurrahman berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah banyak yang akan digunakan Beliau untuk membangun pemukiman di percabangan Sungai Kapuas. Yang kini daerah ini dinamakan Pontianak.

    Pada tahun 1778, Belanda dari Batavia memasuki Pontianak yang dipimpin oleh Willem Ardinpola. Di Pontianak, Belanda disambut baik bahkan bertempat tinggal di seberang kesultanan (kini disebut Tanah Seribu atau Verkendepaal). Kemudian pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan yang berisi bahwa Belanda menginginkan daerah Tanah Seribu sebagai pusat kegiatan bangsa Belanda. Dimana di daerah ini Belanda membuat sistem pemerintahan (daerah kekuasaan yang dipimpin semacam bupati) yang memiliki badan pemerintahan untuk mengelola kekayaan pemerintah dan mengurus pajak. 

Perkembangan Pasar Pontianak di Era Belanda

    Pada tahun 1946 Pontianak ditetapkan sebagai Stadsgemeente yang dipimpin oleh R.Soepadan dan berakhir di tahun 1948. pembentukkan stadsgemeente hanya bersifat sementara. Kemudian di tahun 1949 Kerajaan Pontianak membentuk pemerintahan kota dan walikota pertama ialah Rohanan Muthalib yang merupakan perempuan pertama yang menjadi walikota Pontianak.

   Keindahan Kota Pontianak, perjuangan Sultan Syarif Abdurrahman haruslah kita hargai, rawat, dan juga implementasikan dalam kehidupan sehari - hari. Sehingga dari itu, saya merasa bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa, warga negara Indonesia, harus mencintai tanah air kita yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita, yang dapat diimplementasikan dengan cara mengharumkan nama bangsa dan negara, belajar dengan giat, pantang menyerah dan terus berusaha, mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, tidak melupakan jasa para pahlawan, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan hal positif lainnya yang dapat memajukkan dan mengharumkan nama bangsa kita yaitu bangsa Indonesia.

 

PKL WFH? APAKAH MENARIK DAN BERMANFAAT?

Tanggal 1 Juli 2021, merupakan hari dimana bisa dikatakan hari yang baru, karena dihari itu, saya memulai PKL secara online atau yang seri...